09 Desember, 2008

CAHAYA TERANG KEKALAHAN


Teater bola, mungkin itulah sebutan yang layak diberikan setiap kali ada turnamen sepak bola yang berskala agak besar seperti Euro 2004. Lebih dahsyat dari teater yang sebenarnya, yang hanya menguras perhatian sebatas di ruang teater, teater bola ini mengguncang ke mana-mana. Jangankan dunia kerja, hubungan suami-istri pun sementara dilupakan. Jangankan komunikasi perusahaan, kampanye pemilihan presiden pun menjadi kalah populer.

Bila benar pendapat bahwa perhatian adalah mitra aktif tindakan, sepak bola membawa implikasi tindakan yang tidak kecil. Terutama karena terkurasnya demikian banyak perhatian publik akan hal ini. Sehingga meramal tindakan-tindakan manusia kini dan nanti, layak bercermin sebagian dari perhatian kita manusia terhadap sepak bola.

Menang-kalah memang menjadi semacam energi yang membuat sepak bola jadi menarik. Perhatikan secara cermat pertandingan sepak bola, tidak saja dua puluh dua manusia yang mondar-mandir memeras keringat dan pikiran di lapangan yang membuatnya gegap-gempita. Ratusan juta penonton di pinggir lapangan sekaligus di depan layar kaca juga berdebar dengan status menang-kalah. Tanpa judul menang-kalah, sepak bola mana pun bisa kehilangan daya magisnya.

Kehidupan juga serupa. Pertandingan menang-kalah juga menjadi warna dominan kehidupan. Bahkan ada yang berani membunuh orang agar naik ke dalam status menang. Semua orang bilang kalau menang itu nikmat, kalah itu menyakitkan. Namun sedikit yang menemukan cahaya terang di balik kekalahan yang menyakitkan.

Ada banyak sekali kekurangan-kekurangan di dalam yang berhasil disembuhkan justru karena diterangi oleh kekalahan yang menyakitkan. Tidak sedikit manusia yang dibawa ke tempat hidup yang mengagumkan bernama rendah hati, justru karena pernah kalah berulang-ulang. Kesempurnaan juga serupa. Tidak ada satu pun kesempurnaan yang tidak melalui tahapan salah, kalah, salah, kalah, dan sekali lagi kalah.
Sehingga diterangi cahaya pemahaman seperti ini, ingin atau bercita-cita menang tentu saja wajar dan manusiawi. Namun kecewa berlebihan sekaligus mencampakkan kekalahan, tentu layak direnungkan. Secara lebih khusus, karena kekalahan dan kegagalan sedang membawa manusia menuju tangga-tangga kesempurnaan yang lebih tinggi.

Setelah menang-kalah, cahaya kedua yang bersinar dari sepak bola adalah kawan-lawan. Tidak saja tim kesebelasan di lapangan yang punya kawan dan lawan, ratusan juta penonton juga serupa. Tidak saja berhenti dalam pertandingan, dalam percakapan keseharian pun pemisahan kawan-lawan terjadi. Bersahabat dengan kawan tentu saja mudah sekaligus indah. Tertawa, canda, ceria, gembira itulah sebagian berkah dari kegiatan berkawan.

Dan lawan, di permukaan memang hanya memproduksi halangan sekaligus kesulitan. Masih di permukaan, marah, gerah, musibah itulah akibat dari hadirnya lawan. Tidak banyak yang menyelami, kalau energi justru bertambah dengan kehadiran lawan. Hati-hati, itu hal kedua yang muncul di dalam melalui kehadiran lawan. Dan yang paling penting, lawan adalah rangkaian orang yang menentukan seberapa tinggi kita manusia bisa terbang.

Ibarat latihan tinju, kalau sparring partner-nya anak kecil balita, maka petinjunya pun hanya bisa sampai kelas balita. Dan lawan-lawan kehidupan juga serupa. Setiap kali kita manusia dihadapkan pada lawan-lawan yang tidak terbayangkan besarnya, itu juga sebuah tanda-tanda, kalau kehidupan sedang membimbing ke wilayah yang tidak terbayangkan besarnya. Makanya, bisa dimaklumi kalau pejalan-pejalan kaki kehidupan yang sampai di puncak-puncak yang amat tinggi, tidak sedikit yang berterimakasih dan bahkan merasa berhutang budi pada orang-orang yang awalnya disebut lawan.

Piala, itulah cahaya ketiga yang datang dari sepak bola. Ia seperti garis finish bagi pelari, seperti puncak gunung bagi para pendaki. Dan tentu saja amat layak disyukuri kalau tim sepak bola berhasil mendapat piala. Atau tim pendaki berhasil sampai di puncak gunung. Namun, tidak terlalu banyak manusia yang memperhatikan dan mencermati setiap langkah dalam meraih piala, atau setiap pemandangan dalam perjalanan menuju puncak gunung.

Bagi setiap tim sepak bola, jauh-jauh hari sebelum piala diraih ada serangkaian hal yang mesti dijalani. Latihan di lapangan, berlari-lari mendaki gunung, percakapan dengan pelatih, menonton permainan sendiri sekaligus lawan, diteriaki penonton, atau malah ada yang pernah cidera kaki, hanyalah sebagian perjalanan sebagai syarat meraih piala. Sama dengan pendaki gunung, pemandangan dan canda di lereng gunung juga tidak kalah menariknya.

Kehidupan juga serupa. Sebagian orang (sebagai contoh Stephen Covey) menggunakan piala sebagai dorongan untuk bergerak. Makanya ada prinsip mulai dengan gambar akhir sebagai salah satu prinsipnya Covey. Namun ada juga yang tidak memerlukan gambar akhir. Sehingga yang tersisa hanyalah proses yang mengalir. Dalam bahasa seorang sahabat guru: "When you totally flow, the agony disappear, pain becomes pleasure." Tatkala manusia mengalir penuh, seluruh luka-luka mendalam menghilang, kesedihan menjadi kesenangan.

Kembali ke soal sepak bola, kita tentu saja memerlukan keduanya: piala sekaligus proses yang mengalir. Tatkala manusia mendapat piala dengan cara mengalir bukankah manusia memperoleh keduanya: piala di akhir sekaligus kegembiraan dalam perjalanan? *****

Tidak ada komentar: